Senin, 14 September 2015

Pembelajaran Kooperatif



IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN COOPERATIVE  LEARNING DALAM BIDANG STUDI FIQIH DI MADRASAH TSANAWIYAH AN-NAJAH I KARDULUK PRAGAAN SUMENEP
Sahuri[1]

ABSTRAK

Pembelajaran Cooperatif Learning menjadi salah satu pilihannya. Landasan teoritis pembelajaran cooperative Learning adalah teori konstruktivisme.
Strategi pembelajaran cooperative learning dikembangkan salah satunya oleh Robert E. Slavin mempunyai karakteristik/ciri-ciri : 1. Siswa bekerja dan belajar dalam kelompoksecara cooperative untuk menuntaskan materi belajarnya. 2. Kelompok dibentuk dari sisi yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. 3. Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, suku, budaya, dan jenis kelamin  yang berbeda-beda. 4. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok ketimbang individu.
Penelitian ini difokuskan bagaimana guru melakukan persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajar, dan apa saja faktor-faktor pendukung dan penghambat implementasi pembelajaran cooperate learning dalam bidang studi ilmu fiqih di MTs. An-Najah I Karduluk Sumenep. 
Hasil penelitian terungkap bahwa keaktifan siswa sangat dipengaruhi oleh kesiapan guru dan pengggunan strategi sampai metode pembelajaran yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar, setiap pelaksanaan pembelajaran cooperative bidang studi fiqih ada perubahan lebih baik dan signifikan terhadap sikap dan perilaku siswa terhadap materi fiqih. Walaupun masih ditemukan beberapa siswa pada tiap kelompok yang masih kurang berperan aktif dalam kelompoknya. secara umum pembelajaran cooperative learning mampu meningkatkan minat belajar dan kepekaan social peserta didik.
Kata Kunci : Pembelajaran, Konstruktivisme, Cooperative Learning, Fiqih



Pendahuluan

Dunia pendidikan kita dihadapkan pada suatu fenomena paradoks,  kesenjangan antara pencapaian academic standard dan performance standard. Aktifitas belajar mengajar tidak lebih sebagai pseudo pembelajaran (Agus Suprijono, 2012: ix). Di sisi lain pendidikan dijadikan harapan dan tumpuan berperan menjalankan fungsinya secara optimal, sampai saat ini ditengarai makin jauh dari makna etisnya. Pertama, pendidikan adalah proses pengembangan potensi, maka pendidikan harus memberikan ruang seluas-luasnya bagi pengembangan potensi, kreasi dan inovasi peserta didik seiring dengan potensi dirinya. Kedua; pendidikan adalah proses pewarisan dan pelestarian budaya. Abuddin Nata sampaikan dunia pendidikan saat ini berada pada persimpangan antara tarikan dunia eksternal sebagai pengaruh dari globalisasi dan tarikan internal sebagai misi utama pendidikan menciptakan manusia seutuhnya, manusia yang terbina seluruh potensi kemanusiaannya secara seimbang (Abuddin Nata, 2012: 2). Kenyataannya lanjut Zainuddin Maliki dunia pendidikan saat ini justru mengalami the ill equipped for employment (belum terdayagunakannya lulusan pendidikan dilapangan kehidupan) dalam arti mengalami kegagalan literasi (Zainuddin Maliki, 2012: 15).

Kualitas produk pendidikan secara signifikan ditentukan oleh guru dalam proses pembelajaran, dengan demikian kualitas pembelajaran juga dipengaruhi oleh sikap guru dan kecermatan dan skill khusus untuk memilih dan melaksanakan berbagai pendekatan dan model pembelajaran, karena profesi guru menuntut sifat kreatif dan kemauan mengadakan improvisasi (Nana Syaodih S.,1983: 115),  dalam memilih dan menerapkan berbagai strategi, pendekatan, metode maupun media pembelajaran yang relevan dengan kondisi siswa dan tujuan pembelajaran.
Kegiatan belajar mengajar memiliki dua hal penting yang menentukan keberhasilan, yakni pengaturan Proses Belajar Mengajar dan pengajaran itu sendiri, antara keduanya memiliki ketergantungan satu sama lain. Kemampuan mengatur proses belajar mengajar yang baik, akan menciptakan situasi yang memungkinkan siswa belajar dengan baik, motivasi belajar juga menjadi lebih tinggi dan hal ini merupakan titik awal keberhasilan pengajaran. Siswa dapat belajar dengan suasana wajar, tanpa tekanan dan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar. Siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar memerlukan sesuatu yang memungkinkan mereka bisa berkomunikasi secara baik dengan guru, teman maupun dalam lingkungannya.
Salah satu upaya untuk mewujudkan suasana belajar yang memungkinkan siswa berkomunikasi secara baik adalah dengan menggunakan pendekatan pendidikan yang berpusat pada siswa (Student-Centered Approaches). Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa ini melahirkan pembelajaran Cooperative Learning dan pembelajaran Cooperative Learning  merupakan salah satu bentuk dari pembelajaran  Active Learning.
Cooperative Learning merupakan salah satu dari pembelajaran aktif yang meliputi berbagai cara untuk membuat siswa aktif sejak awal melalui aktifitas-aktifitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu yang singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran(Melvin Silberman, 2001: xiv). Walaupun aksentuasi pembelajaran Cooperative learning adalah interaksi kelompok, namun demikian pembelajaran kooperatif bukan sekedar belajar dalam kelompok, ada unsur-unsur dasar yang membedakan dengan belajar kelompok lainnya, ciri-ciri utamanya adalah; pertama, memudahkan siswa belajar sesuatu yang bermanfaat seperti, fakta, keterampilan, nilai, konsep dan bagaimana hidup serasi dengan sesama. Kedua, pengetahuan, nilai, dan keterampilan diakui oleh mereka yang berkompeten menilai.
Metode Penelitian
Artikel ini mencoba mengkaji bagaimana mempersiapkan, melaksanakan Pembelajaran Cooperative Learning Bidang Studi Ilmu Fiqih pada MTs. An-Najah I Karduluk Sumenep serta factor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambatnya.
Desain penelitian ini mempergunakan pendekatan kualitatif yang berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang berada dalam situasi-situasi tertentu (Moloeng, 2007 : 17).
Penelitian ini mengambil lokasi dan obyek di MTs An-Najah I Karduluk Kabupaten Sumenep dengan jumlah siswa 220 orang, yang terdiri dari siswa laki-laki 115 siswa dan perempuan sebanyak 105 siswa. Sumber data diperoleh langsung dari sumber utama yang terdiri dari; Kepala Sekolah, Guru Bidang Studi Ilmu Fiqih dan beberapa siswa, ditambah dengan sumber data pustaka yang terkait langsung dengan fokus penelitian. Dengan metode ini dapat diketahui bagaimana dan dalam situasi apa pembelajaran Cooperative Learning dapat diterapkan pada Pendidikan Agama Islam khususnya Bidang Studi Fiqih.

Pengertian dan Tujuan Pembelajaran Cooperatif Learnig

Pembelajaran kooperatif learning bernaung dalam teori konstruktivisme, dalam  pandangan konstruktivisme peran guru bukan sekedar pemberi ilmu pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengentahuan dibenaknya. Guru membuka jalan bagi siswa untuk terciptanya kesempatan mengeksplorasi segenap kemampuan dan mengaplikasikan ide-idenya sendiri, dan mempelajarkan siswa dengan sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar (Trianto, 2007: 26). Konsep dasar munculnya pembelajaran kooperatif bahwa siswa akan mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika berdiskusi dan bekerja dengan temannya dalam suatu kelompok dalam memecahkan masalah yang kompleks, hal tersebut kata Trianto karena interaksi social dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama(Trianto, 2007:`14).
Pembelajaran kooperatif merupakan bagian dari pembelajaran berbasis social (Agus Suprijono, 2012 : 54). Prinsip pembelajaran ini adalah siswa membentuk kelompok kecil saling mengajar sesamanaya untuk mencapai tujuan bersama (Made Wina, 2009: 189).  Lebih lanjut Wina Sanjaya sampaikan pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan atau kelompok kecil yang terdiri dari empat atau enam orang dengan latar belakang, kemampuan akademik, jenis kelamin, ras dan suku yang heterogen (Wina Sanjaya, 2009: 20). Karena belajar bersama merupakan kebutuhan manusia yang mendasar untuk merespon manusia lain dalam mencapai suatu tujuan. 
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu sistem yang memamfaatkan teman sejawat sebagai sumber belajar, atau pembelajaran yang menggambarkan keseluruhan proses social dalam belajar dan juga mencakup pengertian cooperative.(Agus Suprijono, 2012 : 55). 
Tujuan Pembelajaran Cooperatif Learnig
Robert E. Slavin mengemukakan tujuan yang paling penting dari model pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan para siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi anggota masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi (Slavin,2005: 103). Wisenbaken mengemukakan bahwa tujuan model pembelajaran kooperatif adalah menciptakan norma-norma yang pro akademik di antara para siswa, dan norma-norma pro akademik memiliki pengaruh yang amat penting bagi pencapaian siswa. Tujuan pembelajaran kooperatif setidak-tidaknya meliputi tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Jacobsen, 2009 : 42).
Strategi ini berlandaskan pada teori belajar Vygotsky yang menekankan pada interaksi sosial sebagai sebuah mekanisme untuk mendukung perkembangan kognitif, metode ini didukung oleh teori belajar information processing dan Cognitive Theory of Learning.Yamin Martinis, 2008: 56). Dalam pelaksanaannya metode ini membantu siswa untuk lebih mudah memproses informasi yang diperoleh, karena proses encoding akan didukung dengan interaksi yang terjadi dalam Pembelajaran Kooperatif. Pembelajaran dengan metode Pembelajaran Kooperatif dilandasakan pada teori Cognitive karena menurut teori ini interaksi bisa mendukung pembelajaran.
Selanjutnya Agus Suprijono sampaikan Model pembelajaran kooperatif  dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi, akademik, toleransi, menerima keragaman dan pengembangan keterampilan sosial (Agus Suprijono,2012: 61).
Berdasarkan uraian diatas bahwa penerapan pembelajaran kooperatif memberikan manfaat bagi masa depan siswa dalam kehidupannya, Miftahul menjabarkan beberapa manfaat pembelajaran kooperatif.
a.         siswa yang diajari dengan dan dalam struktur-struktur kooperatif akan memperoleh hasil pembelajaran yang lebih tinggi;
b.        siswa yang berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif akan memiliki sikap  harga-diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar;
c.         dengan pembelajaran kooperatif, siswa menjadi lebih peduli pada temantemannya, dan di antara mereka akan terbangun rasa ketergantungan yang positif (interdependensi positif) untuk proses belajar mereka nanti;
d.        pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa penerimaan siswa terhadap teman-temannya yang berasal dari latar belakang ras dan etnik yang berbeda-beda (Miftahul Arifin, 2001: 66).
Unsur-unsur Pembelajaran Cooperative
Vigostsky dalam pandangannya mengatakan bahwa kegiatan kooperatif  diantara anak-anak yang usianya sebaya lebih suka bekerja di dalam wilayah pembangunan paling dekat sama satu sama lain, prilaku yang diperlihatkan di dalam kelompok kolaborasi lebih berkembang daripada yang dapat mereka tunjukkan sebagai individu. Ini terjadi karena fungsi-fungsi pertama kali terbentuk secara kolektif di dalam bentuk hubungan diantara anak-anak dan kemudian menjadi fungsi-fungsi mental bagi masing-masing individu. (Adi Gunawan, 2006: 199). Menyebutkan lima elemen, yaitu:
a.    Interdependen yang positif (perasaan kebersamaan)
Dalam pembelajaran kooperatif, guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana belajar yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Siswa yang satu membutuhkan siswa lainnya, demikian pula sebaliknya (Made Wina, 2009 : 190).
b.    Interaksi face to face atau tatap muka yang saling mendukung (Face to Face Promotion Interaction)
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang sama kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka saling member informasi dan saling membelajarkan (Wina Sanjaya, 2009 : 245).
c.    Tanggung jawab individual (Personal Responsibility)
Setiap anggota kelompok harus belajar dan aktif memberikan kontribusi untuk mencapai keberhasilan kelompok (Yatim Riyanto, 2009 : 244). 
d.   Komonikasi antar anggota (Interpersonal skill)
Pembelajar kooperatif melatih siswa mampu berpartisipasi aktif dan komonikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan mereka dimasyarakat. Oleh sebab itu, sebelum kooperaatif, guru perlu membekali siswa dengan kemampuan komonikasi (Wina Sanjaya, 2009: 245).
e.    Pemprosesan secara kelompok (Group Processing)
Group Processing Adalah kemampuan melakukan refleksi terhadap fungsi dan kemampuan mereka bekerja sama sebagai suatu kelompok dan bagaimana untuk membantu berprestasi lebih baik lagi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efektifitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan cooperative untuk mencapai tujuan kelompok (Agus Suprijono,2012: 61).
Cara Mengaktifkan Pembelajaran Cooperatif Learing
Sejumlah studi menemukan bahwa cooperative berhubungan positif dengan prestasi bila interaksi kelompoknya bersifat saling menghormati dan inklusif, dan berhubungan negatif dengan prestasi bila interaksi kelompok tidak saling menghormati atau tidak setara. Hal ini tentu bukan berarti sesuatu yang given, karena banyak (khususnya murid-murid yang masih muda dan murid-murid dengan latar belakang yang sangat kurang menguntungkan) ditemukan kurang memiliki ketrampilan sosial yang dibutuhkan untuk berinteraksi secara positif dengan teman-teman sebayanya.
Murid seringkali kurang memiliki sharing skills (ketrampilan berbagi) yang berarti bahwa mereka mengalami kesulitan untuk berbagi waktu dan materi dan dapat berusaha mendominasi kelompok. Masalah ini dapat dikurangi dengan mengajarkan ketrampilan berbagi, misalnya dengan menggunakan teknik Round Robin dimana guru melontarkan sebuah pertanyaan dengan mengintroduksikan sebuah ide yang memiliki banyak kemungkinan jawaban. Selama tanya jawab Round Robin murid pertama diminta untuk memberikan jawaban, lalu meneruskan gilirannya kepada murid berikutnya. Hal ini berjalan terus sampai seluruh murid mendapat kesempatan untuk berkontribusi.
Sisa murid yang lain mungkin kurang memiliki participation skills (ketrampilan partisipasi). Ini berarti bahwa mereka mengalami kesulitan untuk berpartisipasi di dalam Cooperatif Learning karena merasa malu. Ini dapat dikurangi dengan menstrukturisasikan tugasnya sedemikian rupa sehingga murid-murid merasa memainkan peran tertentu di dalam kelompok atau dengan memberikan “time token” untuk semua kelompok, yang nilainya setara dengan panjang “waktu bicara” tertentu. Murid harus menyerahkan tokennya untuk memantau kapan waktu bicara mereka habis dan setelah itu mereka tidak boleh mengatakan apapun lagi. Dengan cara ini semua murid mendapat kesempatan untuk berkontribusi.
Murid mungkin juga kurang memiliki communication skills (ketrampilan komunikasi). Ini berarti bahwa mereka tidak mampu mengkomunikasikan ide-idenya kepada orang lain secara efektif, yang tampaknya menyulitkan mereka untuk berfungsi dengan baik di dalam kelompoknya. Ketrampilan komunikasi, seperti paraphrasing perlu juga diajarkan secara eksplisit kepada murid sebelum cooprative dilaksanakan.
Demikian juga murid mungkin kurang memiliki listening skills (keterampilan mendengarkan). Ini sering menjadi masalah   pada murid-murid yang lebih muda, yang akan berdiam diri menunggu gilirannya untuk berkontribusi tiba tanpa mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Ini dapat diatasi dengan meminta murid melakukan paraphrashing terhadap kontribusi murid yang mendapat giliran sebelum dirinya, sebelum memberikan kesempatan kepadanya untk memberikan kontribusi.
Selain pembagian kelompok pengaturan tempat duduk ditata sedemikian rupa sehingga anak dapat saling bertatap muka berpasangan. Dalam metode pembelajaran Kooperatif (Cooperative learning), penataan ruang kelas perlu memperhatikan prinsip-prinsip tertentu. Bangku perlu ditata sedemikian rupa sehingga semua siswa bisa melihat guru/papan tulis dengan jelas, bisa melihat rekan-rekan kelompoknya dengan baik, dan berada dalam jangkauan kelompoknya dengan merata. Kelompok bisa dekat satu sama lain, tetapi tidak mengganggu kelompok yang lain dan guru bisa menyediakan sedikit ruangan kosong di salah satu bagian kelas untuk kegiatan lain (Anita Le., 2005: 52). Hal terpenting lainnya adalah bagai mana seorang guru memahami sintaks model pembelajaran kooperatif dengan baik dan benar yang terdiri dari 6 fase.
 Tabel 2.1 : Sintas model Pembelajaran Kooperatif
Fase-Fase
Perilaku Guru
Fase 1 : Present goals and set
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik
Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik siap belajar
Fase 2 : Present Information
Menyajikan informmasi
Mempresentasikan informasi kepada peserta didik secara verbal
Fase 3 : organize student into learning
Mengorganisir peserta didik kedalam tim-tim belajar
Memberikan penjelasan kepada peserta didik tentang tata cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien
Fase 4 : Assist team work and study
Membantu kerja tim dan belajar
Membantu tim-tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugas
Fase 5 : Test on the materials
Mengevaluasi
Menguji pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materipembelajaranatau kelompok-kelompk mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6 : Provide recognition
Memberikan pengakuan atau penghargaan
Mempersiapkan cara untuk mengetahui usaha dan prestasi individu maupun kelompok
Pembelajaran Cooperative Learning dalam Bidang Studi Ilmu Fiqih

Guru harus dapat menjalankan tugas secara professional, guru yang professional akan menjalankan tugas secara optimal. Kondisi seperti inilah yang membutuhkan perencanaan yang matang dengan mengikuti langkah-langkah dan prosedur-prosedur tertentu. Dengan demikian proses pembelajaran akan mencapai hasil yang maksimal. Menurut Naim dan Patoni ada beberapa hal yang harus dilakukan kaitannya dengan kinerja guru dalam perencanaan pembelajaran (Ngainum Naim, [2]007:51).   Pertama, guru harus menyusun perencanaan pembelajaran yang baik. Menurut Dede Rosyada, perencanaan yang baik adalah perencanaan untuk mengapresiasikan keberagaman (Dede Rosyada, 2004 : 128). Dalam membuat perencanaan guru bidang studi fiqih harus melihat pada kondisi dan latar belakang yang sangat beragam dari individual siswa, maka harus merancang berbagai langkah strategis agar proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif, dimana semua siswanya dapat mencapai kompetensi sesuai dengan harapan tanpa ada rasa diskriminasi.
beberapa langkah yang ditempuh antara lain dengan memberi kesempatan kepada siswa yang berkemampuan tinggi untuk selalu memberi bantuan penjelasan kepada siswa yang berkemampuan kurang atau rendah, baik dengan melakukan tutorial sebaya maupun  kerja kelompok sehingga siswa yang memiliki kemampuan rendah dapat melakukan kegiatan secara terarah dan bersama-sama.
Setelah mengelola keberagaman, guru juga harus merumuskan tujuan atau kompetensi. Kompetensi adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa setelah menyelesaikan suatu tahapan tertentu dalam pembelajaran.(Ngainum Naim, [3]007:54).
Kedua, guru harus melakukan analisis terhadap sumber belajar. Sumber belajar mencakup semua sumber yang dapat dipergunakan oleh siswa agar terjadi prilaku belajar. Ketiga, berkomunikasi secara efektif dengan siswa-siswanya. Dalam pembelajaran yang berlangsung di kelas idealnya komunikasi berlangsung tidak satu arah antara guru-murid tetapi minimal dengan dua arah yaitu guru-murid, murid-murid. Keempat, Guru harus membelajarkan strategi pembelajaran yang membelajarkan dan memberi kesempatan penuh kepada siswa dalam mengikuti pembelajaran Cooperative Learning ini.
Evaluasi dan Penilaian Pembelajaran Cooperative
Evaluasi adalah penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program (Muhibbin Syah, 2001 : 175). Penilaian Pembelajaran Cooperative Learning yang berlandaskan konstruktivisme dengan paradigma pembangunan pengetahuan mengandung makna proses yang secara langsung melibatkan skill, sikap dan pengelolaan secara simultan dan selaras dengan taksonami S. Bloom, yakni aspek kognitif, Afektif dan Psikomotorik. Artinya, pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah tidak hanya mengembangkan aspek kognitif dalam diri siswa saja, namun dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang belaku sekarang ini pembelajaran lebih menekankan pada aspek afektif dan psikomotor dari pada sekedar  aspek kognitif. 
Paparan tersebut menunjukkan bahwa penilaian proses yang dilakukan di MTs An-Najah I Karduluk terutama melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam kerja kelompok tersebut. Menurut (Nana Sudjana, 1995 : 61).
Keaktifan siswa ini dapat dilihat dalam hal: a. Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya. b. Terlibat dalam pemecahan masalah. c. Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapi. d. Berusaha mencari informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah. e. Melaksanakan kerja kelompok sesuai dengan petunjuk guru. f. Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya. g. Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis. h. Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya dan i. Penilaian Hasil. Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. (Nana Sudjana, 1995 : 3)
Faktor Pendukung dan Penghambat Proses Pembelajaran
Setelah melaksanakan proses pembelajaran pada madrasah tersebut, maka faktor penghambat yang menjadi dampak negatif dari Cooperative Learning adalah: Faktor Pendukung
1.    Minat siswa yang besar
Siswa memiliki minat yang besar dalam mengikuti pembelajaran Cooperative Learning, hal ini terbukti dengan sikap yang ditunjukkan oleh siswa ketika pembelajaran ini berlangsung hampir tidak terlihat ada siswa yang mengantuk
2.    Memiliki rasa kebersamaan
Kebersamaan yang dimiliki siswa ini dilatarbelakangi karena faktor sosial dan pendidikan, rata-rata siswa di kelas ini berasal dari keluarga menengah yang berasal dari madrasah. Rasa kebersamaan juga ditunjukkan ketika mereka menyelesaikan tugas yang diberikan guru
3.    Lingkungan yang kondusif
Salah satu faktor yang mendukung terhadap pembelajaran yang dilaksanakan di MTs. An-Najah I Karduluk ini karena letak sekolah yang tidak terlalu dekat dengan jalan raya, hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi tenang dan tidak terganggu
4.    Tersedia referensi yang memadai
     Referensi yang berupa buku paket Depag RI merupakan buku pegangan selain buku-buku lain yang selalu dibawa oleh guru pengampu ketika masuk kelas pada setiap pembelajaran.
a.    Faktor Penghambat
1.    Kesulitan berkomunikasi lisan/presentasi
Pembelajaran kolaborasi menuntut siswa untuk memiliki ketrampilan berbicara apalagi ketika melakukan presentasi di depan kelas, ada beberapa siswa yang kesulitan melakukan hal tersebut karena kurangnya ketrampilan komunikasi secara lisan
2.    Perasaan ragu dan malu
Interaksi antaranggota terhambat karena ada anggota yang ragu-ragu dan malu mengemukakan pendapat. Hal ini disebabkan terlalu memperhitungkan reaksi teman lain terhadap apa yang akan dikemukakannya.
3.    Membutuhkan waktu yang banyak
Waktu yang tersedia untuk satu pertemuan tidak memungkinkan untuk melakukan kolaborasi kelompok dan presentasi secara keseluruhan, sehingga hal ini membutuhkan pertemuan berikutnya untuk melanjutkan materi yang sedang dipelajari, minimal 3-4 kali pertemuan
4.    Pertanyaan dan jawaban tidak relevan dengan materi
     Hambatan lain yang terjadi ketika Cooperative Learning dilaksanakan adalah munculnya pertanyaan dan jawaban yang kurang sesuai dengan kajian teori, yang lebih parah lagi ketika pertanyaan dan uraian jawaban itu melebar menjadi pembahasan yang berkepanjangan
Kelemahan atau sisi negatif ini dapat diminimalisir dengan cara antara lain: 
Mejelaskan tugas kepada siswa. Menjelaskan apa tujuan dari kerja kelompok tersebut. Membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan seefektif mungkin. Setiap kelompok menunjuk seorang pencatat yang akan membuat laporan tentang kemajuan dan hasil kelompok tersebut. Guru berkeliling selama kerja kelompok itu berlangsung bila perlu memberi saran/pertanyaan. Guru membantu menyimpulkan kemajuan dan menerima hasil kerja kelompok.

KESIMPULAN

Penggunaan Cooperative Learning sebagai salah satu strategi dalam pembelajaran Fiqih di sekolah, merupakan pendekatan yang menekankan pada belajar kelompok yang setiap anggotanya bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya.Faktor Pendukung ; Minat siswa yang besar, Memiliki rasa kebersamaan, Lingkungan yang kondusif, Tersedia buku-buku referensi, Tersedianya laboratorium computer dan layanan internet, sedangkan Faktor Penghambat
Kesulitan berkomunikasi lisan/presentasi, Perasaan ragu dan malu, Membutuhkan waktu yang banyak, Pertanyaan dan jawaban tidak relevan dengan materi, Munculnya pertanyaan dan jawaban yang kurang sesuai, ketersedian referensi kurang memadai, Kurangnya sosialisasi tentang model-model pembelajaran aktif dan inovatif, guru masih belum mandiri dalam penyusunan perangkat pembelajaran, Guru masih terbawa oleh kondisi dan model konvensional saat proses pembelajaran, kurangnya saran dan prasrana pembelajaran. Maka, Kelemahan atau sisi negatif ini dapat diminimalisir dengan cara antara lain: Mejelaskan tugas kepada siswa, Menjelaskan apa tujuan dari kerja kelompok tersebut, Membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan seefektif mungkin, Setiap kelompok menunjuk seorang pencatat yang akan membuat laporan tentang kemajuan dan hasil kelompok tersebut, Guru berkeliling selama kerja kelompok itu berlangsung bila perlu memberi saran/pertanyaan, Guru membantu menyimpulkan kemajuan dan menerima hasil kerja kelompok.

SARAN-SARAN

Kepada semua guru di MTs. An-Najah I Karduluk untuk terus menerus menerapkan model-model pembelajaran aktif, Inovatif, Kreatif dan menyenangkan. Sehingga kegiatan belajar mengajar bisa memberikan manfaat kepada peserta didik khususnya dalam mempelajari bidang studi fiqih. Dapatnya hasil temuan penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar bagi penelitian berikutnya.



DAFTAR  PUSTAKA

Gunawan, Adi. 2006. Genius Learning Strategy, Petunjuk Praktis untuk Menerapkan Accelerated Learning. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Isjoni. 2007. Cooperative Learning: EfektifitasPembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta.

Jacobsen, David A.; Eggen, Paul; Kauchak, Donald. 2009. Metode-metode pengajaran. Jakarta : Pustaka Pelajar.

Le, Anita. 2005. Cooperatif Learning, memperaktikkan Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Gramedia Wicaksana Indonesia.

Moloeng. 2007, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nata, Abuddin. 2012, Kapita Selekta Pendidikan Islam; Isu-isu Kontemporer tentang Pendidika Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:Kencana.

Silberman, Melvin. 2001, Active Learning : 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: YAPPENDIS.

Sudjana, Nana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sukmadinata, Syaodih, Nana. 1983, Prinsip dan Landasan  Pengembangan Kurikulum. Jakarta: P2LPTK.

Suryosubroto. 2002.  Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Syah, Muhibbin. 2001. Psikologi Belajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada..

Tohirin. 2006. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam:  Berbasis Integrasi dan Kompetensi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Trianto. 2007.  Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka Publihser.

Trianto. 2007. Model-model pembelajaran Inovtif berorientasi Konstruktivisme. Jakarta: Prestasi Pelajar Publisher

Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovati Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.

Yamin, Martinis. 2008. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa. Jakarta: Gaung Persada Press



[1] Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya, Surabaya, Indonesia
[2] Ngainun Naim dan Achmad Patoni, Materi Penyusunan,.54.
[3] Ngainun Naim dan Achmad Patoni, Materi Penyusunan,.54.